
Al-gitaris, Dul-bass, El-drum
Aku bukanlah superman
Aku juga bisa nangis
Jika kekasih hatiku
Pergi meningalkan aku
Ayahku selalu berkata padaku
Laki-laki tak boleh nangis
Harus slalu kuat, Harus slalu tangguh
Harus bisa jadi tahan banting
Tapi ternyata sakitnya cinta
Buat aku menangis...
Aku bukanlah superman
Aku juga bisa nangis
Jika kekasih hatiku
Pergi meningalkan aku
Ayahku selalu memarahi aku
Jika jatuh air mataku
Kata ayah slalu
Air mata itu adalah tanda kelemahan
Tapi ternyata air mataku
Ternyata jatuh juga...
Aku bukanlah superman
Aku juga bisa nangis
Jika kekasih hatiku
Pergi meningalkan aku
Ayahku tersayang maafkanlah aku
Jika aku masih menangis
Masih belum bisa
Menjadi seperti apa yang ayah slalu mahu
Kita berjanji 'tuk tidak lagi
Menangis karena cinta...
Aku bukanlah superman
Aku juga bisa nangis
Jika kekasih hatiku
Pergi meningalkan aku
Aku bukanlah superman
Aku juga bisa nangis
Jika kekasih hatiku
Pergi meningalkan aku
Aku bukanlah superman
Aku juga bisa nangis
Jika kekasih hatiku
Pergi meningalkan aku
Monday, August 31, 2009
the lucky laki-superman
Posted by nurul falahi at 8/31/2009 09:30:00 AM 0 comments
Tuesday, August 25, 2009
KoToWaZa...
1.Chiri-mo-tsumoreba-yama-to-naru = Sikit-sikit lama-lama jadi bukit
2.Ten-ni-mukatte-tsuba-wo-haku = Seperti meludah kelangit
3.Tana-kara-botamochi = Dapat durian runtuh
4.Korobanu-saki-no-tsue = Sediakan payung sebelum hujan
5.Fukusuibon-ni-kaerazu = Nasi sudah menjadi bubur
6. Ato-no-matsuri = Nasi sudah menjadi bubur
7. Hayai-mono-gachi = Siapa cepat dia dapat
8. Rekishi-wa kurikaesu = Sejarah berulang kembali
9. Toki-wa kane-nari = Masa itu emas
10. I-no-naka-no-kawazutaikai-wo-shirazu = Seperti katak di bawah tempurung
Posted by nurul falahi at 8/25/2009 08:06:00 AM 0 comments
Tuesday, August 11, 2009
dr syaidina umar al khattab
“Janganlah hendaknya kecintaan anda terhadap sesuatu itu membuatkan anda menjadi lupa dan kebencian anda terhadap sesuatu itu membuatkan anda menjadi hancur”
Posted by nurul falahi at 8/11/2009 09:44:00 AM 0 comments
Saturday, July 18, 2009
Sunday, April 19, 2009
“Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyhur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara. Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, “Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang engkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya.”
Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, “Aku diperintahkan memakan perkara pertama yang aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan.” Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar sebuku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur ‘Alhamdulillah’.
Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut. Maka berkatalah Nabi itu, “Aku telah melaksanakan perintahmu.” Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disadari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam.
Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung helang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, “Wahai Nabi Allah, tolonglah aku.” Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung helang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, “Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku.”
Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, iaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat daging itu, helang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya. Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya.
Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, “Ya Allah, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku erti semuanya ini.”
Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahwa, “Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.
Kedua; semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua. Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya. Keempat; jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima; bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah.”
Kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa saja berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah mengata hal orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengata hal orang lain. Haruslah kita ingat bahwa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, “Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu.” Maka berkata Allah S.W.T., “Ini adalah pahala orang yang mengata-ngata tentang dirimu.” Dengan ini haruslah kita sedar bahwa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.” (sumber: www.al-munir.net)
Posted by nurul falahi at 4/19/2009 09:20:00 AM 0 comments

.mp4_000037751.jpg)




